Cerita Pagi

Hari ini kebetulan jadwal masuk kantor. Masih naik taksi mumpung rute perjalanan masih bersahabat.

Saat buka pintu, seperti biasa saling menyapa “Selamat Pagi!”, saya menyebutkan tujuan saya meskipun sudah saya tuliskan juga di aplikasi. Pak Taksi langsung membuka pembicaraan dengan kalimat, “Maaf bu agak terlambat karena saya tadi bantu ibu-ibu kecelakaan jatuh dari motor terlempar ke rimbunan pohon bambu.”. Perhatian saya langsung tertuju kepada cerita tersebut, spontan bertanya, “Dimana pak?”. Pak Taksi pun melanjutkan ceritanya dan menunjuk arah yang berlawanan dengan rute perjalanan kami. Yaaa…kalau saat ini, dari gang rumah saya kami kearah kanan, Pak Taksi menunjuk kearah kiri. Hmm.. ok, memang di arah kiri itu ada satu sisi yang ditumbuhi tanaman bambu. But hold on, saya terbiasa memperhatikan lokasi taksi yang saya pesan pada aplikasi sehingga saya bisa memperhitungkan kapan saatnya saya harus pakai sepatu. Saya yakin bahwa taksi yang saya pesan ini, datang dari arah yang berlawanan dengan lokasi rimbunan pohon bambu tersebut. Menarik!

Anger Issues

Marah adalah reaksi normal dan at some certain level setiap orang pasti pernah marah. Tapi, pernah gak sih kamu ketemu sama orang yang punya anger issues? yaitu orang yang saat marah cenderung berlebihan.

Di usia muda dulu, keseharian saya penuh amarah. Pembelaan saya ketika mengingat masa itu, hidup terlalu berat dan untuk bertahan saya harus tunjukkan bahwa saya lebih keras dari hidup. Sejalan dengan bertambahnya usia, saya lebih mampu menahan emosi saya. Some friends say that I have a poker face now. Mungkin karena saat ini saya lelah marah dan lebih berserah pada rencana akhir Tuhan.

Kembali ke anger issues. Beberapa kali saya tanpa sengaja mendengar pertengkaran suami istri yang menurut saya, both of them are having anger issues. Kenapa? karena pada saat mereka bertengkar, suara yang ‘bocor’ melalui tembok rumah kami yang tipis terdengar sangat keras. Bahkan, pada pertengkaran terakhir beberapa hari lalu, saya mendengar barang-barang besar yang dijatuhkan atau dibanting, entah itu lemari atau sejenisnya, bukan sekadar suara barang-barang kecil yang dilempar. Ditambah lagi, si suami berteriak seperti growling atau entah apa istilahnya. Suara berlari naik turun tangga pun terdengar berkali-kali. I was so scared at that time. Yang ada dipikiran saya adalah perasaan 2 anak mereka yang masih kecil, si anak paling besar bahkan belum masuk SMP. Sebenarnya saya sudah mendengar pertengkaran mereka beberapa kali, namun dari suara barang-barang yang saya terdengar, menurut saya kemarin adalah pertengkaran terbesar.

Kenapa saya menulis ini? karena saya merasa sedih. Saya tidak terlalu akrab dengan tetangga saya itu dan kami pun sangat jarang bertemu. Saya hanya berkaca pada hati saya sendiri. Dengan kondisi pertengkaran ‘normal’ orang tua saya dulu, tidak ada sedikitpun detail yang saya lupa. Bagaimana dengan memori anak-anak tetangga saya tersebut? Mungkin mereka akan menjadi lebih kuat dari saya, tetapi pasti ada luka yang lebih besar dalam hati mereka. Dan membayangkan luka yang harus dibawa anak-anak itu dalam hidup mereka kedepannya, sangatlah menyakitkan.

I am not on their shoes, I don’t know what they are facing, I don’t know their problems, thus I’m not going to judge any of them. Saya hanya menyayangkan kenapa pertengkaran seperti itu harus terjadi di depan anak-anak. Semoga tidak ada physical abuse di dalam rumah itu. Saya hanya bisa berharap, semoga apapun yang terjadi, Tuhan berikan kekuatan dan kedamaian pada hati seluruh anggota keluarga tersebut. Semoga itu juga menjadi peringatan bagi saya, untuk tidak melakukan hal yang sama dengan mereka.

Semoga saya bisa….

Silver Lining

Saat dunia merasa bahwa 2020 adalah tahun yang berat, saya menjalaninya dengan penuh syukur dan berbahagia.

Januari 2020, saya memulai kehidupan di kantor baru dengan situasi yang sangat berbeda dari kantor sebelumnya. Memulai dari nol di saat usia tidak lagi muda, sangatlah tidak mudah. Apalagi, lingkungan kantor baru seakan tidak melihat panjangnya perjalanan karir saya, hanya karena perbedaan bidang usaha. Apa daya, saya harus menerima, ‘resiko memasuki dunia baru’ dalih saya saat itu. Ditambah dengan rasa syukur bahwa saya bisa kembali bekerja di tempat yang menurut saya cukup menjanjikan.

Maret 2020, kasus pertama COVID-19 di Jakarta terjadi. Semua terhenyak, kehidupan melambat, semua bidang usaha membatasi gerak. Pun yang terjadi dengan kantor baru saya. Saat saya bahkan belum ingat nama dan wajah semua orang, kami sudah dirumahkan. Istilah Work-from-Home menjadi sesuatu yang lazim. Pelan namun pasti, virus mulai memakan korban jiwa. Era baru pun di mulai. Gerak kami menjadi sangat terbatas. Tingkat kewaspadaan meningkat. Kami tidak lagi keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan atau makan di luar. Sebisa mungkin semua dilakukan dari rumah. Kami menjadi lebih peduli akan kebersihan dan kesehatan. Simply because COVID-19 menyerang mereka yang memiliki imun tubuh rendah.

Saya, menikmati bekerja dari rumah. Laptop dengan internet non-stop di meja, bisa diselingi dengan bersih-bersih rumah, membuat kue, menjahit, bercocok tanam dan hal lain yang saya suka. Lebih lelah karena saat WFH sepertinya waktu kerja tidak terbatas. Tetapi saya lebih bahagia, karena tidak perlu merasa khawatir karena harus bolak-balik ke kantor dan beresiko tertular COVID-19 dalam perjalanan.

Desember 2020, saat tahun ini akan segera berakhir, keadaan masih sama. Jumlah penderita COVID-19 belum menurun. Saya masih WFH dengan jatah 2 hari per minggu ke kantor. Masih belum berani melakukan perjalanan jauh. Serta masih memakai masker, membawa hand-sanitiser dan peralatan makan sendiri saat makan di luar.

Ingin menghabiskan 2020 dan menutupnya dengan hati yang berbahagia dan damai. Itu saja.

Mulai dari Nol

Sekitar satu minggu yang lalu, saya mulai bosan dengan kegiatan harian yang belakangan ini saya lakukan. Muncul keinginan untuk menulis, sesuatu yang sesungguhnya pernah saya lakukan, tetapi akhirnya saya tinggalkan karena saya merasa kekurangan waktu dan ide.

Entah apa kabar blog lama saya. Namanya pun sudah lupa. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk memulai lagi, membuka lagi lembaran baru, di tempat yang baru, dengan judul yang baru.

Dan inilah dia, lembaran baru saya 😊