Anger Issues

Marah adalah reaksi normal dan at some certain level setiap orang pasti pernah marah. Tapi, pernah gak sih kamu ketemu sama orang yang punya anger issues? yaitu orang yang saat marah cenderung berlebihan.

Di usia muda dulu, keseharian saya penuh amarah. Pembelaan saya ketika mengingat masa itu, hidup terlalu berat dan untuk bertahan saya harus tunjukkan bahwa saya lebih keras dari hidup. Sejalan dengan bertambahnya usia, saya lebih mampu menahan emosi saya. Some friends say that I have a poker face now. Mungkin karena saat ini saya lelah marah dan lebih berserah pada rencana akhir Tuhan.

Kembali ke anger issues. Beberapa kali saya tanpa sengaja mendengar pertengkaran suami istri yang menurut saya, both of them are having anger issues. Kenapa? karena pada saat mereka bertengkar, suara yang ‘bocor’ melalui tembok rumah kami yang tipis terdengar sangat keras. Bahkan, pada pertengkaran terakhir beberapa hari lalu, saya mendengar barang-barang besar yang dijatuhkan atau dibanting, entah itu lemari atau sejenisnya, bukan sekadar suara barang-barang kecil yang dilempar. Ditambah lagi, si suami berteriak seperti growling atau entah apa istilahnya. Suara berlari naik turun tangga pun terdengar berkali-kali. I was so scared at that time. Yang ada dipikiran saya adalah perasaan 2 anak mereka yang masih kecil, si anak paling besar bahkan belum masuk SMP. Sebenarnya saya sudah mendengar pertengkaran mereka beberapa kali, namun dari suara barang-barang yang saya terdengar, menurut saya kemarin adalah pertengkaran terbesar.

Kenapa saya menulis ini? karena saya merasa sedih. Saya tidak terlalu akrab dengan tetangga saya itu dan kami pun sangat jarang bertemu. Saya hanya berkaca pada hati saya sendiri. Dengan kondisi pertengkaran ‘normal’ orang tua saya dulu, tidak ada sedikitpun detail yang saya lupa. Bagaimana dengan memori anak-anak tetangga saya tersebut? Mungkin mereka akan menjadi lebih kuat dari saya, tetapi pasti ada luka yang lebih besar dalam hati mereka. Dan membayangkan luka yang harus dibawa anak-anak itu dalam hidup mereka kedepannya, sangatlah menyakitkan.

I am not on their shoes, I don’t know what they are facing, I don’t know their problems, thus I’m not going to judge any of them. Saya hanya menyayangkan kenapa pertengkaran seperti itu harus terjadi di depan anak-anak. Semoga tidak ada physical abuse di dalam rumah itu. Saya hanya bisa berharap, semoga apapun yang terjadi, Tuhan berikan kekuatan dan kedamaian pada hati seluruh anggota keluarga tersebut. Semoga itu juga menjadi peringatan bagi saya, untuk tidak melakukan hal yang sama dengan mereka.

Semoga saya bisa….

Author: Jemari Menari

No one but a stack of brick outside and a sweet marshmallow inside.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: