Silver Lining

Saat dunia merasa bahwa 2020 adalah tahun yang berat, saya menjalaninya dengan penuh syukur dan berbahagia.

Januari 2020, saya memulai kehidupan di kantor baru dengan situasi yang sangat berbeda dari kantor sebelumnya. Memulai dari nol di saat usia tidak lagi muda, sangatlah tidak mudah. Apalagi, lingkungan kantor baru seakan tidak melihat panjangnya perjalanan karir saya, hanya karena perbedaan bidang usaha. Apa daya, saya harus menerima, ‘resiko memasuki dunia baru’ dalih saya saat itu. Ditambah dengan rasa syukur bahwa saya bisa kembali bekerja di tempat yang menurut saya cukup menjanjikan.

Maret 2020, kasus pertama COVID-19 di Jakarta terjadi. Semua terhenyak, kehidupan melambat, semua bidang usaha membatasi gerak. Pun yang terjadi dengan kantor baru saya. Saat saya bahkan belum ingat nama dan wajah semua orang, kami sudah dirumahkan. Istilah Work-from-Home menjadi sesuatu yang lazim. Pelan namun pasti, virus mulai memakan korban jiwa. Era baru pun di mulai. Gerak kami menjadi sangat terbatas. Tingkat kewaspadaan meningkat. Kami tidak lagi keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan atau makan di luar. Sebisa mungkin semua dilakukan dari rumah. Kami menjadi lebih peduli akan kebersihan dan kesehatan. Simply because COVID-19 menyerang mereka yang memiliki imun tubuh rendah.

Saya, menikmati bekerja dari rumah. Laptop dengan internet non-stop di meja, bisa diselingi dengan bersih-bersih rumah, membuat kue, menjahit, bercocok tanam dan hal lain yang saya suka. Lebih lelah karena saat WFH sepertinya waktu kerja tidak terbatas. Tetapi saya lebih bahagia, karena tidak perlu merasa khawatir karena harus bolak-balik ke kantor dan beresiko tertular COVID-19 dalam perjalanan.

Desember 2020, saat tahun ini akan segera berakhir, keadaan masih sama. Jumlah penderita COVID-19 belum menurun. Saya masih WFH dengan jatah 2 hari per minggu ke kantor. Masih belum berani melakukan perjalanan jauh. Serta masih memakai masker, membawa hand-sanitiser dan peralatan makan sendiri saat makan di luar.

Ingin menghabiskan 2020 dan menutupnya dengan hati yang berbahagia dan damai. Itu saja.

Author: Jemari Menari

No one but a stack of brick outside and a sweet marshmallow inside.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: